Rabu, 03 September 2008

6 Rumah di Pesing Terbakar

oEnam Rumah di Pesing Terbakar

Jakarta – Sebanyak enam rumah yang berlokasi di Perumahan Wijaya Kusuma, Pasar Ayam Pesing, Jakarta Barat, Rabu (03/09) malam, hangus terbakar. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kerugian yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Informasi yang berhasil dihimpun SH, sumber api pertama kali diketahui berasal dari rumah Made, warga setempat. Menurut keterangan Joko, petugas Pemadam Kebakaran Jakarta Barat yang dihubungi SH pagi ini, kobaran api pertama terllihat sejak pukul 19.55 WIB dan berhasil dijinakkan 26 unit petugas Suku Dinas Pemadam Kebakaran yang datang ke lokasi, dalam tempo kurang dari satu jam.

Petugas Polsek Tanjung Duren, Jakarta Barat hingga kini masih menyelidki penyebab pasti kebakaran. Dugaan sementara, sumber api berasal dari korsleting listrik. “Sementara hasil pemeriksaan di lapangan menyebutkan kebakaran dikarenakan korsleting listrik di rumah warga. (Bch)

Kriminalitas di Tahun 2008

Pola Pikir Pembunuh yang Berkembang

Angka kriminalitas khususnya pembunuhan di tahun 2008 ini mengalami peningkatan yang sangat drastis dibanding tahun sebelumnya. Tak hanya pembunuhan biasa, beberapa kasus besar bahkan mengindikasi pola pikir pelaku kejahatan yang mengalami perkembangan. Mereka tak segan menghilangkan identitas korbannya dengan berharap aparat kepolisian kesulitan mengungkap kasus pembunuhan yang dilakukan.

Jakarta – Dihubungi melalui telepon genggamnya kemarin sore, Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jendral Polisi (Irjen Pol) Abubakar Natprawira tak menyangkal adanya peningkatan angka kriminalitas khususnya kasus pembunuhan. “Memang ada peningkatan baik dari kuantitas maupun kualitas kasus pembunuhan disbanding tahun sebelumnya,” kata jendral berbintang dua ini.

Senada dengan Abubakar, Kriminolog UI, Adrianus Meilala dalam wawancara melalui telepon, mengungkapkan kenaikan angka kriminalitas pada tahun 2008 ini berkisar hingga 50 %. Menurutnya berdasarkan penelitian yang dilakukan sepanjang tahun 2007, angka kematian tidak wajar yang terjadi di Indonesia mencapai 2200 orang. Sementara di tahun 2008, hingga Agustus angka kasus kematian tidak wajar yang terjadi telah mencapai jumlah keseluruhan di tahun 2007. “Tahun lalu berkisar antara 70-80 jam/kasus. Sementara tahun ini menjadi 35 jam/kasus. Jadi setiap satu setengah hari ditemukan orang yang meninggal tidak wajar, termasuk yang menjadi korban pembunuhan," terang Adrianus.

Selain dalam hal kuantitas dari kasus pembunuhan itu, dari segi kualitas pun kasus pembunuhan yang terjadi turut mengalami kemajuan, setidaknya dalam hal mencoba menghilangkan jejak atau identitas korbannya. Beberapa cara yang dilakukan pelaku dalam menutupi aksinya diantaranya dengan cara memutilasi, merusak wajah korban, membakar hingga membuangnya ke kali setelah disembunyikan di dalam koper.

Mutilasi Heri Santoso (40) yang dilakukan oleh Very Idham Henyaksyah alias Ryan di Apartemen Margonda Residence, Jumat (11/7) malam lalu mungkin adalah kasus terbesar tahun ini. Selain terlibat kasus mutilasi, belakangan kepolisian berhasil mengungkap kasus pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Ryan. Tak tanggung-tanggung, sejak tahun 2006 lalu Ryan ternyata telah melakukan pembunuhan setidaknya terhadap 10 korban yang dikubur di belakang rumahnya di Jombang, Jawa Timur. Disinyalir sebagian besar korbannya menderita penyimpangan seksual yang sama dengannya. Pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Ryan sendiri merupakan kasus terbesar sepanjang 10 tahun terakhir setelah Ahmad Suraji alias Dukun AS yang membunuh 42 wanita di Medan pada tahun 1997. kasus Ryan yang juga mengalami kelainan seksual karena menyukai sesama jenis ini juga membuat kaum homoseksual kembali menjadi sorotan publik.

Selain mutilasi dan pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Ryan, kasus lain yang melibatkan homoseksual yaitu kematian Hari Parwanto Suprapto (49), karyawan Bank Mandiri yang ditemukan tewas Rabu (30/7) pagi, dengan 34 luka tusukan di Apartemen Taman Rasuna Tower IX Lantai 11 kamar 11 G Setiabudi, Jakarta Selatan. Pelaku pembunuhan yang bernama Burhan alias Jose alias Han-han, (25), model asal Palembang, Sumatera Selatan yang tak lain adalah teman kencan sesama jenis korban. Sama seperti Ryan, dalam melakukan aksinya, untuk menghilangkan jejaknya Burhan mencoba merusak wajah korbannya sehingga sulit dikenali.

Kasus-kasus besar lain yang terjadi sepanjang tahun 2008 diantaranya adalah pembunuhan Ronald Alimun (60) dan Sri Magdalena (45), pasangan suami istri yang menetap di Kompleks Cipta Graha, Blok C No 6, Kelurahan Sukaraja, Cicendo, Bandung, Minggu (31/08) dini hari. Pelaku yang tak lain adalah Firman, pembantu kedua korban bahkan dengan sadis memutilasi Sri Magdalena menjadi empat bagian. Tak hanya itu, pelaku juga dengan tega merebus kepala korban yang telah terputus dengan sebuah panci selama beberapa belas menit. Bahkan di tengah-tengah aktifitas brutalisme itu, pelaku dengan santai mampu melayani beberapa pembeli yang datang ke warung milik korban.

Ada pula penemuan jenazah Bambang Sapto yang disembunyikan di dalam koper dan ditenggelamkan di danau Sunter pertengahan Juli lalu. Salah seorang dari tiga pelaku bahkan merupakan keturunan warga Negara asing yang tak lain adalah pesaing bisnisnya. Kejahatan di lingkungan anak jalanan juga mengalami peningkatan di tahun ini. Jika sebelumnya kita hanya sering mendengar pencopetan, penjambretan di jalanan, namun akhir-akhir ini tak jarang pula ditemukan beberapa kasus pembunuhan yang melibatkan sesama anak jalanan. Dalam satu kasus di kolong Fly Over Pejompongan, Slipi, Jekarta Pusat, Selasa (02/09) dini hari setidaknya memberi gambaran kemajuan pola pikir mereka dalam melakukan aksi kriminalitas. Entah karena mengikuti contoh dari kejadian sebelumnya atau memang hanya kepanikan sesaat, namun tiga pengamen yang ditangkap petugas Polsek Tanah Abang terkait kasus itu diketahui mencoba menghilangkan identitas korban dengan cara membakar tubuh korbannya. Tindakan itu semata-mata dilakukan untuk membuat pihak kepolisian kesulitan menangani kasusnya.



Jangan Hanya Mengandalkan Polisi



Meningkatnya angka kriminalitas, khususnya pembunuhan menurut Adrianus tak lepas dari gejala sosial di masyarakat saat ini. Kesulitan ekonomi ditengarai menjadi salah satu penyebabnya. “Semua harga naik, masryarakat hidup di bawah tekanan sehingga mengakibatkan tingkat emosi menjadi tinggi,” jelas Kriminolog UI ini. Selain itu berbagai tayagan yang menampilkkan adegan kriminalitas juga turut menjadi faktor pendorong. Ditambahkannya, pemerintah seharusnya mulai mewaspadai tingginya angka kriminalitas ini. “Jika gejala ini masih terus terjadi dan meningkat hingga di tahun 2009, bisa mengartikan telah terjadi pergesaran sosial di masyarakat seperti nilai dan norma,” imbuhnya.

Disinggung mengenai solusi untuk menurunkan permasalahan tersebut, Adrianus menjawab masyarakat seharusnya tak hanya mengandalkan aparat kepolisian. “Polisi umumnya hanya mengawasi tempat-tempat umum yang dinilai rawan terjadi kejahatan seperti terminal, pasar dan jalanan. Sementara banyak kasus pembunuhan yang justru terjadi di luar tempat umum seperti di rumah,” tukas Adrianus. “Masyarakat seharusnya memberdayai dirinya sendiri untuk mencegah terjadinya kriminalitas tersebut. Jangan hanya mengandalkan polisi,” sahutnya seraya mengatakan peran polisi khususnya Binmas dan Intel agar lebih ditingkatkan. (Bachtiar)

Selasa, 02 September 2008

Kasus Mayat Dibakar di Kolong Fly Over

vwqcgDibunuh Sesama Pengamen Karena Menggunakan Narkoba


Jakarta - Terkait kasus ditemukannya sesosok jenazah yang terbakar di kolong Jembatan layang (fly over) Pejompongan, Slipi, Jakarta Barat, Selasa (02/09) dini hari, petugas Polsek Tanah Abang telah menetapkan tiga tersangka dan menahan mereka di kantor polisi.
Kapolsek Tanah Abang, Kompol Luthfi S yang dihubungi SH pagi ini mengatakan ketiga tersangka yang masing-masing bernama Ronald (25), Ipan Situmorang (28), dan Hendra (25) adalah para pengamen yang menetap di sekitar lokasi. Motif pembunuhan itu sendiri berlatarbelakang kekesalan para pelaku karena korban kerap menggunakan narkoba. “Mereka para pengamen yang tinggal di sekitar lokasi kejadian telah berkomitmen untuk tak mengkonsumsi narkoba. Malam itu, para pelaku memergoki korban yang bernama Bintang, tengah menggunakan narkoba. Saat ditegur, korban yang juga seorang pengamen, tidak terima. Para pelaku akhirnya kesal sehingga mengeroyoknya hingga pingsan,” jelas Luthfi. Dirinya menambahkan, dalam kondisi pingsan itu, para pelaku yang masih merasa kesal kemudian menumpuk korban dengan kayu dan batang pohon untuk selanjutnya dibakar.
Penangkapan ketiga pelaku bermula dari penemuan sebuah tas berisi Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik salah seorang pelaku yang bernama Ipan Situmorang. Sebelumnya sempat beredar motif lain pembunuhan itu yang diduga dilandasi perebutan wanita antara korban dengan salah seorang pelaku. Namun Kapolsek membantah hal tersebut. “Sejauh ini menurut keterangan para tersangka motif pembunuhan hanyalah karena korban menggunakan narkoba. Pelaku akan dikenakan pasal 170 ayat 3 KUHP tentang pengeroyokan yang menyebabkan kematian,” imbuh mantan Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Barat ini. (Bachtiar)

Rekontruksi Aktor Mutilasi

Dikawal Ketat, Aktor Mutilasi Tenang Berekontruksi

JakartaTenang…Ekspresi itulah yang tergambar di wajah Verry Idham Henyaksyah alias Ryan saat melakukan rekontruksi pembunuhan sekaligus mutilasi yang dilakukan terhadap Heri Santoso (40), Selasa (02/09) pagi. Tak tampak di wajahnya kekhawatiran ataupun trauma terhadap bayangan peristiwa kelam yang dilakukannya Jumat (11/7) malam, di apartemen Margonda Residence Kamar 309A, Depok.

Dalam reka ulang pembunuhan tersebut, sosok Ryan seolah berubah layaknya aktor utama dalam sebuah pentas film. Sorot kamera dari para jurnalis dari berbagai media yang sengaja datang sejak dini hari seolah tak mau melepas pandangannya dari tingkah laku yang dilakukannya. Salah satu televisi swasta bahkan mendatangkan peralatan khususnya untuk menayangkan adegan rekontruksi yang dilakukan Ryan. Meski demikian, jangankan meminta tanda tangan untuk sang artis baru di kancah kriminal ini, bahkan untuk mendekat, tak satu pun wartawan yang berhasil melakukannya. Ryan memang dijaga super ketat oleh puluhan petugas Satuan Kejahatan dengan Kekerasan (Jatanras) dan Samapta Polda Metro Jaya. Walhasil…parade zoom pun tak pelak kerap terjadi demi mendapatkan momen dari kisah pembunuhan terbesar di Indonesia sepanjang tahun ini.

Pengawalan ketat Ryan memang terlihat sejak petugas tiba di Apartemen Margonda Residence sekitar pukul 05.00 WIB. Di parkiran belakang, lokasi dimana mobil APV hitam bernopol B 8988 HR milik korban terparkir, petugas telah memasang police line. Bahkan penghuni setempat pun dilarang melintas saat beberapa adegan awal dari kisah mutilasi ini berlangsung di areal parkiran. Kejadian serupa juga terjadi di babak utama atau klimaks dari kesadisan Ryan. Selain garis polisi hingga beberapa puluh meter di lantai 3 Tower A apartemen tersebut, petugas juga menutup rapat pintu kamar kamar 309A yang menjadi lokasi pembantaian korban. Di dalam kamar tersebut, Ryan yang masih mengingat jelas apa yang dilakukannya tanpa banyak kesulitan memperagakannya di depan polisi, dua pengacara yang mendampinginya serta dua orang perwakilan dari Kejaksaan Depok. Keseriusan Ryan bahkan tergambar jelas di wajahnya yang tanpa senyum sepanjang rekontruksi berlangsung.

Pengamanan yang dilakukan pihak kepolisian memang terlihat cukup mengesankan. Sayangnya, selain menuai sisi positif, pengamanan pihak kepolisian juga tampak berlebihan, khususnya ketika para wartawan berusaha mengabadikan momen dari rekontruksi tersebut. Dalam satu kesempatan, di lantai III, beberapa wartawan berusaha mengambil gambar dengan sudut pandang lurus menghadap Ryan yang akan keluar usai memperagakan pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan di kamarnya. Beberapa petugas Jatanras berpakaian preman pun bergegas menyuruh wartawan-wartawan tersebut untuk pindah ke tangga yang berada persis di depan lift. Padahal ketika itu, posisi sang wartawan berada di luar garis polisi yang notabene merupakan batas yang diberikan petugas. Usaha yang dilakukan wartawan itu toh tak akan mempengaruhi jalannya rekontruksi secara langsung.

Sesuai BAP yang dilakukannya, Usai mereka ulang peristiwa di kamar, Ryan juga memperagakan saat dirinya menumpang taksi kuning bernopol B 2688 XU saat akan membuang jenazah korban yang telah dipotongnya menjadi sembilan bagian dan disembunyikan di dalam koper dan travel bag. Selesai keseluruhan adegan di apartemen, puluhan petugas berikut taksi dan Ryan yang didamping pengacara dan kekasihnya, Novel bergegas meluncur ke Jalan Kebagusan, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang merupakan lokasi pembuangan jenazah korban. Sama halnya dengan Ryan, wajah Novel yang tampan da terkesan lugu juga tampak tenang menghadapi rekontruksi itu.

Setibanya di kawasan Kebagusan, jarum jam juga telah menunjuk ke angka sembilan. Seperti sebelumnya, petugas pun menutup akses jalan di lokasi yang telah mulai ramai, dengan police line selama rekontruksi berlangsung. Beberapa anggota Satpol PP juga tampak di lokasi untuk menghalau kerumunan warga yang ingin melihat secara langsung wajah Ryan yang tak lain juga adalah pembunuh berantai di kampung halamannya. Karena hanya menampilkan adegan pembuangan jenazah mutilasi korban, rekontruksi di lokasi ini akhirnya tak berlangsung lama. Petugas kemudian membawa Ryan dan Novel ke Polda Metro Jaya untuk kembali melakukan rekontruksi belanja dan penangkapannya di Polda Metro Jaya. Seiring kepergian rombongan petugas dan sang aktor berdarah dingin itu, satu persatu warga pun akhirnya beranjak pulang dan melanjutkan aktifitas mereka sebelumnya. (bachtiar)

Senin, 01 September 2008

Jenazah Hangus dan Ditusuk

Jenazah Terbakar Ditemukan di Kolong Fly Over


Jakarta – Sesosok jenazah ditemukan warga dalam kondisi menghangus di kolong Fly Over Pejompongan, Slipi, tepatnya di depan Jakarta Design Centre, Jekarta Pusat, Selasa (02/09) dini hari. Berdasarkan olah TKP yang dilakukan petugas, korban diketahui sengaja dibunuh. Hal tersebut tampak pada ditemukannya luka di kepala belakang korban. Pelaku juga sengaja meletakkan sebuah papan di atas tubuh korban untuk menghanguskan korban yang ketika dibakar diperkirakan dalam kondisi tak sadar. Kejadian iotu sendiri diperkirakan belum lama terjadi. Hal itu berdasarkan masih menyalanya bara api yang membakar tubuh korban.

Pantauan SH di lokasi, ditemukan sebuah tas hitam bergambar kartun mobil di samping tubuh korban yang mempunyai ciri-ciri memakan beberapa gelang karet dan tali di lengan kanannya itu. Dalam tas tersebut selain terlihat sejumlah pakaian wanita, petugas juga menemukan uang puluhan ribu dan foto copy atas nama Sion Situmorang, warga Pejompongan. Awalnya petugas mengira korban adalah lelaki yang mempunyai identitas seperti di KTP tersebut. namun dugaan itu sirna ketika petugas menemukan lelaki yang bernama Sion tengah tertidur tak jauh dari lokasi. Kepada petugas, Sion mengaku memang telah kehilangan KTP nya. Untuk memastikan kebenaran keterangan tersebut, petugas kemudian membawa Sion ke Polsek Tanah Abang. Sementara jenazah korban yang diperkirakan merupakan orang yang terbiasa hidup di kolong jembatan, kemudian dievakuasi ke RSCM untuk divisum. Kapolsek Tanah Abang, Kompol Lutfi yang dihubungi SH pagi ini mengatakan pihaknya masih menyelidiki identitas korban.

Sementara itu, sebuah pembunuhan juga terjadi di Jalan pasar Buah Angke RT 05/05, Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, Senin (01/09) pukul 23.40 WIB. Korban yang diketahui bernama Turwan (29), tewas dengan luka tusukan badik di dadanya. Menurut keterangan Adi, p0enjaga warung di sekitar lokasi, sebelumnya korban diketahui berjalan bersama dua rekannya di Jalan Gudang Bandung . Tiba-tiba dari arah berlawanan datang seseorang tak dikenal yang langsung menancapkan badik ke tubuh korban. Pelaku kemudian melarikan diri.

Petugas Polsek Tambora yang datang ke lokasi, menemukan sebuah badik yang digunakan pelaku untuk menghabisi nyawa korban. Korban yang selama ini diketahui bekerja di sebuah konveksi di kawasan Tambora ini kemudian dievakuasi ke RSCM untuk divisum. Kasus ini dalam penanganan Polsek Tambora. (Bachtiar)

Circle K Dirampok Empat Penjahat Bersenpi

Circle K Dirampok Empat Penjahat Bersenpi


Jakarta –Usaha waralaba Circle K yang berlokasi di Jalan Rs. Fatmawati, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (01/09) dini hari didatangi kawanan perampok bersenjata api. Pelaku yang berjumlah empat orang tersebut berhasil menggondol uang tunai sebesar 52 juta rupiah milik kas Circle K.

Dalam melakukan aksinya keempat pelaku yang datang menggunakan kendaraan Toyota Kijang warna Silver, berpura-pura sebagai pembeli. Setibanya di dalam, salah seorang pelaku langsung menodongkan senjata api yang dibawanya ke Sukarman, Adilius dan Agus Santoso, karyawan setempat. Dibawah todongan senjata api ketiganya kemudian diikat menggunakan lakban.

Pelaku yang berhasil mengambil uang kas puluhan juta milik kas mini market tersebut. kasus ini hingga kini masih ditangani petugas Polsek Cilandak, jakarta Selatan. (Bch)

Rekontruksi Mutilasi

Pengamanan Rekontruksi Ryan, Super Ketat

JakartaSetelah lama mengambang, rekontruksi mutilasi terhadap Heri Santoso yang dilakukan Verry Idham Henyaksyah alias Ryan di kediamannya di kamar 309A, Apartemen Margonda Residence, Depok akhirnya dilakukan Selasa (02/09) pagi.

Rekontruksi yang dimulai sejak pukul 05.00 WIB tersebut berlangsung di bawah pengalawan ketat sekitar enam puluh petugas Jatanras dan Samapta Polda Metro Jaya. Petugas membatasi ruang gerak warga ataupun peliput dengan police line yang berjarak hingga belasan meter dari Ryan. Di depan setiap garis polisi, satu tim petugas Samapta yang berjumlah 10 orang tampak berjaga-jaga. Sementara belasan petugas Jatanras yang mengenakan pakaian preman menyebar hingga di sekitar kedua tersangka.

Rekontruksi pertama dimulai dengan adegan datangnya mobil APV hitam bermopol B 8986 HR yang dikendarai korban dan Ryan dan berlanjut hingga peristiwa pembunuhan dan mutilasi di dalam kamar. Rekontruksi juga memperlihatkan pembuangan tubuh korban yang disembunyikan pelaku di dalam travel bag di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan, serta melibatkan Novel, kekasih Ryan yang dituduh sebagai penadah. Selama rekontruksi berlangsung wajah kedua tersangka tampak tenang.

Petugas menghadirkan berbagai saksi, diantaranya pengemudi kendaraan Taksiku bernopol B 2688 XU yang ditumpangi Ryan untuk membuang tubuh korban yang telah dipotong menjadi sembilan bagian ke kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan. Petugas juga menggunakan alat peraga sebuah boneka sebagai pengganti korban saat dimutilasi di dalam kamar yang dihuni pelaku dan kekasihnya.

Tak ada keterangan resmi yang diberikan petugas kepolisian yang dipimpin langsung oleh Kasat Jatanras Polda Metro Jaya, AKBP Fadil Imron. Sementara Yoman, salah seorang kuasa hukum Ryan yang turut datang ke lokasi mengatakan, setidaknya Ryan melakukan 70 adegan dalam rekontruksi, baik di apartemen Margonda Residence hingga di lokasi pembuangan yaitu, Jalan Kebagusan Raya, Ragunan, Pasar Minggu Jakarta Selatan. Sejauh ini menurutnya, rekontruksi yang dilakukan hari ini masih sesuai dengan BAP. “Masih dilakukan dengan professional lah,” kata Yoman.

Selain Yoman, kuasa hukum Novel yaitu Medianto hadi Purnomo juga tampak saat rekontruksi berlangsung. Ditemui SH di lokasi, Medianto mengungkapkan, sejauh ini tak ditemukan keterlibatan Novel dalam kasus mutilasi yang dilakukan oleh Ryan. Tak hanya itu, menurut pengakuan yang diterimanya, Novel mengatakan dirinya sama sekali tak mengetahui barang-barang yang diberikan oleh Ryan merupakan hasil kejahatan. “Ketika itu Novel hanya berpikiran bahwa orang disayanginya telah memberikannya hadiah. Itu saja. Mengenai tuduhan pasal 480 KUHP tentang penadah, akan kita buktikan nanti di pengadilan,” tukasnya.

Ditambahkan Medianto, sejauh ini tak ada keluhan yang diterimanya dari Novel terkait perlakukan yang diberikan pihak kepolisian. Meski demikian diakuinya, keluhan itu justru bersumber dari pihak keluarga Novel. “Mereka merasa keberatan karena polisi menggunakan dan mengeskplor Novel untuk memancing keterangan Ryan,” sahutnya.

Selain dihadiri pihak pengacara kedua tersangka, rekontruksi juga disaksikan pihak kejaksaan Depok. Santo, salah seorang perwakilan dari Kejaksaan Depok mengatakan pihaknya belum dapat memastikan di mana lokasi persidangan terhadap Ryan akan digelar. “Kami masih harus mempelajari berkasnya dan berkoordinasi dengan pihak Jawa Timur,” imbuh Santo.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Jumat (11/7) malam, sekitar pukul 20.00 WIB Ryan dengan keji melakukan pembunuhan terhadap Heri di apartemen yang dihuni bersama kekasihnya, Noval. Untuk menghilangkan jejak pembunuhan tersebut, Ryan kemudian memutilasi tubuh Heri dengan pisau menjadi sembilan bagian. Dengan menumpang taksi, potongan-potongan tubuh yang disembunyikan di dalam koper dan travel bag itu kemudian dibuang olehnya di kawasan Kebagusan, Ragunan, Jakarta Selatan. Potongan-potongan Tubuh Heri akhirnya ditemukan warga keeseokan harinya.

Berdasarkan penyelidikan yang bermula dari penggunaan kartu kredit korban, hanya dalam tempo beberapa hari polisi berhasil menangkap Ryan berikut pasangannya, Noval yang ikut diamankan karena dituduh menjadi penadah di kawasan Depok. Kepada polisi, ketika itu, Ryan mengaku motif di balik pembunuhan sadis yang dilakukannya berlatarbelakang dendam karena kekasihnya yang ketika itu menjabat sebagai PNS di Imgrasi Depok telah dilecehkan. Namun polisi juga menduga motif lain yaitu penguasaan harta. Belakangan, kasus mutilasi ini akhirnya berkembang menjadi kasus pembunuhan berantai di tanah kelahiran Ryan di Jombang. Di lokasi itu, Ryan melakukan pembunuhan terhadap 10 korbannya dan menimbunnya di halaman belakang rumahnya. (Bachtiar)